Rabu, 14 Oktober 2015

Lampung Krisis Air Bersih

[BANDAR LAMPUNG] Masyarakat Lampung di sejumlah daerah mengalami kelangkaan air bersih, menyusul lamanya musim kering yang melanda daerah itu. Akibatnya, penduduk di sejumlah daerah di Lampung harus membeli air bersih dari pedagang air.

Berdasarkan pantauan Pembaruan di Kota Bandarlampung, Metro, Lampung Timur serta beberapa daerah lainnya masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih, selain mereka melakukan penghematan air, sudah ada diantara penduduk yang membeli air bersih kepada para pedagang air.

Khusus di daerah Kedaton, Bandar Lampung, warga terlihat menyerbu sumur gratis yang disediakan salah seorang warga di kawasan Gg PU. Bahkan sumur gratis itu tidak saja diserbu warga kelurahan kedaton tapi juga ada dari kelurahan Labuhanratu dan sekitaranya. "Terpaksa kami mengambil air mengunakan becak atau sepeda motor ke sini, sebab sumur di rumah sudah kering sejak sebulan yang lalu," ujar Ilham pada Pembaruan, Senin (12/9).

Ilham dan penduduk lainnya bersyukur karena ada orang yang menjadi dermawan dengan menyediakan air bersih didepan rumahnya selama 24 jam. "Alhamdulilah ada air bersih gratis, jadi kami masih bisa tertolong tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya," tambah warga lainnya.

Bahkan tukang becak yang mangkal di Gg PU itu juga bisa mendapatkan keuntungan lebih, sebab banyak masyarakat sekitarnya yang mengunakan jasa mereka untuk mengangkut air bersih.

Sedangkan warga Kelurahan Sepangjaya, Kedaton dalam beberapa hari terakhir ini juga ada yang sibuk memperdalam sumur bor mereka. Rata-rata di daerah setempat kedalaman sumur bor itu mencapai 42 meter. Tetapi kini ada yang memperdalamnya antara 60 hingga 70 meter, seperti yang dilakukan Heri Wardoyo.

Saat sumur bor diperdalam, kami sementara waktu membeli air air penjual air dengan harga Rp 1.000 per dirijen dengan isi 20 liter. Sebab kalau mau minta ke tetangga tak tega, karena hampir dipastikan sumur bor mereka juga mulai kekeringan. Hal itu dapat kita dengar dari suara mesin airnya yang mengaung, kalau suara mesin airnya sudah tidak normal pasti air di dalamnya mulai kekeringan.

Kesulitan akan air itu tidak saja melanda Kota Bandar Lampung tapi juga merata di hampir setiap pelosok Lampung, seperti di Natar, Lampung Selatan, Metro, Sukadana Lampung Timur, Bandarjaya Lampung Tengah serta daerah-daerah lainnya.

Untuk di Metro, Ariq terpaksa membeli selang sepanjang 30 meter guna menyambung atau meminta air ke tetangga, sebab sumur bor miliknya sudah tak mampu menghisap air. Setiap pagi dan sore, air dialirkan melalui selang dari rumah si empunya air ke rumahnya. Hal itu sudah berlangsung satu bulan terakhir.

Selain meminta kepada tetangga yang punya sumur bor, beberapa warga lainya ada yang telah  mencuci pakaian dan mengambil air di masjid sekitar. Namun, pengambilan air dibatasi oleh pengurus masjid. Sebab, dikhawatirkan kebutuhan air untuk jemaah yang hendak salat tidak tercukupi.

"Kalau bulan depan tidak turun hujan, kami ngak tau apa yang bakal terjadi di kompel ini, sekarang aja kami sudah minta air ke tetangga, kalau tetangga itu kehabisa, ya kami terpaksa mandi ke sungai yang airnya kotor dan pasti gatal," tambahnya.*

*Sumber: www.suarapembaruan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar