Minggu, 11 Oktober 2015

Menabung Air di Musim Hujan

Musim penghujan seperti sekarang ini merupakan saat yang tepat bagi warga untuk menabung air melalui bak penampungan atau sumur resapan. Pada musim kemarau nanti, warga dapat memanen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia sering mengalami bencana banjir dan kekeringan. Dua bencana itu datang silih berganti pada musim yang berbeda. Memasuki puncak musim hujan saat ini, beberapa wilayah di Indonesia telah mengalami banjir sehingga menyebabkan kerugian materiil maupun nonmateriil bagi warga.
Contoh kerugian materiil ialah rusaknya infrastruktur dan hilangnya harta benda. Adapun kerugian nonmateriil adalah ketidaknyamanan, kekhawatiran, perubahan sistem sosial, hingga melayangnya jiwa manusia.
“Bencana banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau merupakan dampak dari perubahan iklim yang telah terjadi di Indonesia akhir-akhir ini,” tutur perekayasa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Nusa Idaman Said, kepada Koran Jakarta, Rabu (7/1). 

Dampak perubahan iklim semakin berat ketika lahan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air dialihfungsikan sebagai bagunan permanen, seperti di Jakarta. Pada musim penghujan seperti saat ini, air yang seharusnya meresap ke tanah mengalir ke permukaan tanah.
Belum lagi permasalahan saluran air yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tersumbat sampah. Akibatnya, air meluber hingga membanjiri jalan-jalan dan permukiman.
Lebih runyam lagi, saat ini permasalahan di kota-kota besar bukan hanya banjir, tapi juga penurunan permukaan air tanah. “Penyebabnya adalah perubahan lingkungan yang merupakan dampak dari proses pembangunan secara masif,” kata Nusa.
Menurut para ahli, penurunan muka air tanah di Kota Jakarta mencapai 0,5–12 sentimeter per tahun, sedangkan kenaikan air laut sekitar 0,9 sentimeter per tahun. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Kota Jakarta akan tenggelam dalam waktu 50 tahun ke depan. Kondisi tersebut juga diperkirakan akan terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia.
Nusa melanjutkan krisis air bersih juga menjadi masalah serius ketika bencana banjir. Air bersih mendadak menjadi barang langka. Kasus ini kerap terjadi di daerah yang terisolasi karena air meluber ke mana-mana. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Jangan Biarkan Air Mengalir Sampai Jauh
Banjir, kekeringan, dan krisis air bersih menjadi ancaman serius di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, bukan berarti permasalahan tersebut tidak ada solusinya. Para ahli menawarkan solusi menabung air pada musim penghujan dan memanennya pada musim kemarau dengan membuat bak penampungan air hujan atau sumur resapan.
Prinsip kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan ke dalam lubang agar air dapat memiliki waktu tinggal di permukaan tanah lebih lama. “Air yang tertampung sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah,” ujar Nusa Idaman Said, kepada Koran Jakarta, Rabu (7/1).
Menurut Nusa, tujuan utama dari pembangunan sumur resapan adalah memperbesar masuknya air ke dalam akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi). Dengan demikian, air akan lebih banyak masuk ke tanah dan sedikit yang mengalir sebagai aliran permukaan (run off).
Semakin banyak air yang mengalir ke dalam tanah, berarti akan banyak tersimpan air tanah di bawah permukaan Bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap saat,” kata Nusa.
Nusa melanjutkan jumlah aliran permukaan akan menurun karena adanya sumur resapan. Pengaruh positifnya adalah bahaya banjir dapat dihindari karena terkumpulnya air permukaan yang berlebihan di suatu tempat dapat dihindarkan. Menurunnya aliran permukaan ini juga akan menurunkan tingkat erosi tanah. 

Sumur resapan tersebut merupakan kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan.
“Dengan demikian, konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah, sedangkan sumur air minum digali lebih dalam lagi atau di bawah muka air tanah,” jelas Nusa.
Menurut Nusa, sumur resapan dapat dikatakan sebagai suatu rekayasa teknik konservasi air, berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur galian dengan kedalaman tertentu. Fungsi utama dari sumur resapan ini adalah sebagai tempat menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah.
Nusa menyarankan setiap warga di kota-kota besar menerapkan teknologi sederhana ini. “Dapat dibayangkan bila setiap warga di suatu kawasan yang memiliki sejuta bangunan menerapkan sumur resapan. Masing-masing mampu meresapkan air satu kubik,” ujar dia.
Dengan demikian, lanjut Nusa, sejuta kubik air akan masuk ke tanah sehingga kawasan tersebut dapat terhindar dari bencana banjir dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau.

Teknologi Pemanenan Hujan
Melihat kondisi air dan tanah yang kian memburuk di kota-kota besar seperti Jakarta, dibutuhkan cara dan teknologi untuk mengembalikan fungsi tanah dan air. Ada beberapa alternatif teknologi resapan air, di antaranya lubang resapan biopori, saluran peresapan biopori, sumur resapan, dan bioretensi. 

Biopori
Biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar tanaman dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi, air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.
Kelebihan dari biopori di antaranya berbentuk liang silindris yang kontinu dan bercabang ke berbagai arah sehingga mudah dilalui air dan udara. Selain itu, dinding biopori yang dilapisi bahan organik menjadi tempat hunian biodiversitas tanah. Lubang-lubang biopori ini juga mudah ditembus perakaran tanaman. 

Sumur Resapan
Adapun lubang resapan biopori ialah lubang vertikal ke dalam tanah yang dimanfaatkan untuk mengomposkan sampah organik. Lubang peresapan biopori ini relatif murah dan mudah dibuat. Tidak memerlukan ukuran lahan yang terlalu luas serta ramah lingkungan. 

Bioretensi
Lain halnya dengan bioretensi. Teknologi aplikatif ini menggabungkan unsur tanaman (green water) dan air (blue water) di dalam suatu bentang lahan yang memungkinkan meresapkan air ke dalam tanah. Pembuatan bioretensi ini dapat dibangun di halaman rumah, selokan, trotoar, taman, lahan parkir, dan di gang-gang sempit yang padat penduduk.
Kelebihan dari teknologi pengendalian banjir berbasis lahan dan teknologi bioretensi adalah mengendalikan air limpasan sekaligus memanen air hujan pada saat musim hujan.*

*Sumber: www.koran-jakarta.com


Untuk mendapatkan air bersih dan sehat untuk rumah anda gunakan Penjernih Air Serbaguna Zernii Water Filter, hubungi kami
TLP/SMS/WA : 

081317331084 dan 081369036489


Tidak ada komentar:

Posting Komentar