Musim
penghujan seperti sekarang ini merupakan saat yang tepat bagi warga
untuk menabung air melalui bak penampungan atau sumur resapan. Pada
musim kemarau nanti, warga dapat memanen untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
Beberapa
tahun belakangan ini, Indonesia sering mengalami bencana banjir dan
kekeringan. Dua bencana itu datang silih berganti pada musim yang
berbeda. Memasuki puncak musim hujan saat ini, beberapa wilayah di
Indonesia telah mengalami banjir sehingga menyebabkan kerugian materiil
maupun nonmateriil bagi warga.
Contoh
kerugian materiil ialah rusaknya infrastruktur dan hilangnya harta
benda. Adapun kerugian nonmateriil adalah ketidaknyamanan, kekhawatiran,
perubahan sistem sosial, hingga melayangnya jiwa manusia.
“Bencana
banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau merupakan
dampak dari perubahan iklim yang telah terjadi di Indonesia akhir-akhir
ini,” tutur perekayasa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT), Nusa Idaman Said, kepada Koran Jakarta, Rabu (7/1).
Dampak
perubahan iklim semakin berat ketika lahan yang seharusnya berfungsi
sebagai daerah resapan air dialihfungsikan sebagai bagunan permanen,
seperti di Jakarta. Pada musim penghujan seperti saat ini, air yang
seharusnya meresap ke tanah mengalir ke permukaan tanah.
Belum
lagi permasalahan saluran air yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya
karena tersumbat sampah. Akibatnya, air meluber hingga membanjiri
jalan-jalan dan permukiman.
Lebih
runyam lagi, saat ini permasalahan di kota-kota besar bukan hanya
banjir, tapi juga penurunan permukaan air tanah. “Penyebabnya adalah
perubahan lingkungan yang merupakan dampak dari proses pembangunan
secara masif,” kata Nusa.
Menurut
para ahli, penurunan muka air tanah di Kota Jakarta mencapai 0,5–12
sentimeter per tahun, sedangkan kenaikan air laut sekitar 0,9 sentimeter
per tahun. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Kota Jakarta akan
tenggelam dalam waktu 50 tahun ke depan. Kondisi tersebut juga
diperkirakan akan terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia.
Nusa melanjutkan krisis air bersih juga menjadi masalah serius ketika
bencana banjir. Air bersih mendadak menjadi barang langka. Kasus ini
kerap terjadi di daerah yang terisolasi karena air meluber ke mana-mana.
Lantas, bagaimana cara mengatasinya?
Jangan Biarkan Air Mengalir Sampai Jauh
Banjir,
kekeringan, dan krisis air bersih menjadi ancaman serius di sejumlah
daerah di Indonesia. Namun, bukan berarti permasalahan tersebut tidak
ada solusinya. Para ahli menawarkan solusi menabung air pada musim
penghujan dan memanennya pada musim kemarau dengan membuat bak
penampungan air hujan atau sumur resapan.
Prinsip
kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan ke dalam
lubang agar air dapat memiliki waktu tinggal di permukaan tanah lebih
lama. “Air yang tertampung sedikit demi sedikit air dapat meresap ke
dalam tanah,” ujar Nusa Idaman Said, kepada Koran Jakarta, Rabu (7/1).
Menurut
Nusa, tujuan utama dari pembangunan sumur resapan adalah memperbesar
masuknya air ke dalam akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi).
Dengan demikian, air akan lebih banyak masuk ke tanah dan sedikit yang
mengalir sebagai aliran permukaan (run off).
Semakin
banyak air yang mengalir ke dalam tanah, berarti akan banyak tersimpan
air tanah di bawah permukaan Bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan
kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap
saat,” kata Nusa.
Nusa
melanjutkan jumlah aliran permukaan akan menurun karena adanya sumur
resapan. Pengaruh positifnya adalah bahaya banjir dapat dihindari karena
terkumpulnya air permukaan yang berlebihan di suatu tempat dapat
dihindarkan. Menurunnya aliran permukaan ini juga akan menurunkan
tingkat erosi tanah.
Sumur
resapan tersebut merupakan kebalikan dari sumur air minum. Sumur
resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke tanah, sedangkan sumur
air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan.
“Dengan
demikian, konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali
dengan kedalaman di atas muka air tanah, sedangkan sumur air minum
digali lebih dalam lagi atau di bawah muka air tanah,” jelas Nusa.
Menurut
Nusa, sumur resapan dapat dikatakan sebagai suatu rekayasa teknik
konservasi air, berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga
menyerupai bentuk sumur galian dengan kedalaman tertentu. Fungsi utama
dari sumur resapan ini adalah sebagai tempat menampung air hujan dan
meresapkannya ke dalam tanah.
Nusa
menyarankan setiap warga di kota-kota besar menerapkan teknologi
sederhana ini. “Dapat dibayangkan bila setiap warga di suatu kawasan
yang memiliki sejuta bangunan menerapkan sumur resapan. Masing-masing
mampu meresapkan air satu kubik,” ujar dia.
Dengan
demikian, lanjut Nusa, sejuta kubik air akan masuk ke tanah sehingga
kawasan tersebut dapat terhindar dari bencana banjir dan mampu
mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau.
Teknologi Pemanenan Hujan
Melihat
kondisi air dan tanah yang kian memburuk di kota-kota besar seperti
Jakarta, dibutuhkan cara dan teknologi untuk mengembalikan fungsi tanah
dan air. Ada beberapa alternatif teknologi resapan air, di antaranya
lubang resapan biopori, saluran peresapan biopori, sumur resapan, dan
bioretensi.
Biopori
Biopori
adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas
organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar tanaman
dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur
mengalirnya air. Jadi, air hujan tidak langsung masuk ke saluran
pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.
Kelebihan
dari biopori di antaranya berbentuk liang silindris yang kontinu dan
bercabang ke berbagai arah sehingga mudah dilalui air dan udara. Selain
itu, dinding biopori yang dilapisi bahan organik menjadi tempat hunian
biodiversitas tanah. Lubang-lubang biopori ini juga mudah ditembus
perakaran tanaman.
Sumur Resapan
Adapun
lubang resapan biopori ialah lubang vertikal ke dalam tanah yang
dimanfaatkan untuk mengomposkan sampah organik. Lubang peresapan biopori
ini relatif murah dan mudah dibuat. Tidak memerlukan ukuran lahan yang
terlalu luas serta ramah lingkungan.
Bioretensi
Lain
halnya dengan bioretensi. Teknologi aplikatif ini menggabungkan unsur
tanaman (green water) dan air (blue water) di dalam suatu bentang lahan
yang memungkinkan meresapkan air ke dalam tanah. Pembuatan bioretensi
ini dapat dibangun di halaman rumah, selokan, trotoar, taman, lahan
parkir, dan di gang-gang sempit yang padat penduduk.
Kelebihan
dari teknologi pengendalian banjir berbasis lahan dan teknologi
bioretensi adalah mengendalikan air limpasan sekaligus memanen air hujan
pada saat musim hujan.*
*Sumber: www.koran-jakarta.com
Untuk mendapatkan air bersih dan sehat untuk rumah anda gunakan Penjernih Air Serbaguna Zernii Water Filter, hubungi kami
TLP/SMS/WA :
081317331084 dan 081369036489

Tidak ada komentar:
Posting Komentar