Jangan pernah memandang remeh air. Kelebihan membuat banjir,
kekurangan pun bikin sengsara. Jebolnya tanggul air di Buaran, Jakarta
Timur, membuat beberapa tempat di Jakarta kekurangan air bersih. Di
Petamburan, Jakarta Pusat, warga bersitegang satu sama lain karena
berebut air bersih yang dipasok pemerintah daerah.
Selain air, tentu masyarakat perlu mewaspadai beberapa penyakit yang
timbul karena kekurangan air bersih. Tanpa akses air minum yang bersih,
menurut organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO), 3.800 anak
meninggal tiap hari oleh penyakit. Badan kesehatan dunia (WHO)
memperkirakan 2 miliar manusia per hari terkena dampak kekurangan air di
40 negara, dan 1,1 miliar tak mendapat air yang memadai.
Di Indonesia, 119 juta rakyat belum memiliki akses terhadap air
bersih. Baru 20 persen, itu pun kebanyakan di daerah perkotaan,
sedangkan 82 persen rakyat Indonesia mengkonsumsi air yang tak layak
untuk kesehatan. Menurut badan dunia yang mengatur soal air, World Water
Assessment Programme, krisis air memberi dampak yang mengenaskan:
membangkitkan epidemi penyakit.
Enam puluh persen sungai di Indonesia tercemar, mulai bahan organik sampai bakteri coliform dan Fecal coli
penyebab diare. Menurut data Kementerian kesehatan, dari 5.798 kasus
diare, 94 orang meninggal. Jakarta dialiri 13 sungai, sayangnya menurut
badan pengendalian lingkungan hidup DKI Jakarta 13 sungai di Jakarta itu
sudah tercemar bakteri Escherichia coli, bakteri dari sampah organik
dan tinja manusia.
Sungai Ciliwung termasuk yang paling besar tercemar bakteri E. coli,
kadar pencemaran mencapai 1,6-3 juta individu per 100 cc, padahal
standar baku mutunya 2.000 individu per 100 cc. Dari situ ada 20-30
jenis penyakit yang bisa timbul akibat mikroorganisme di dalam air yang
tidak bersih. Bakteri yang sama juga mencemari 70 persen tanah di Ibu
Kota yang juga berpotensi mencemari sumber air tanah.
Padahal kebutuhan air bersih orang di Jakarta setiap hari
diperkirakan 175 liter air per orang. Dan untuk 9 juta penduduk,
diperlukan 1,5 juta meter kubik per hari. Perusahaan air minum baru bisa
memenuhi kebutuhan 52 persen lebih, itu pun kalau tidak ada masalah.
Menurut penelitian WHO, penyakit yang timbul akibat krisis air
antara lain kolera, hepatitis, polymearitis, typoid, disentrin trachoma,
scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.
Di Indonesia, 423 per 1.000 penduduk semua usia kena diare, dan
setahun dua kali diare menyerang anak di bawah 5 tahun. Diare yang
disertai muntah sering disebut muntah-berak (muntaber), gejalanya
biasanya buang air terus-menerus, muntah, dan kejang perut. Jika tak
bisa diatasi dengan gaya hidup sehat dan lingkungan yang bersih, bisa
lebih jauh terkena tifus dan kanker usus, yang tak jarang menyebabkan
kematian.
Menurut dokter ahli penyakit lambung (gastroenterolog) Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam, terbatasnya air bersih
akan berdampak pada masalah kesehatan masyarakat. Sebab, masyarakat
membutuhkan air bersih untuk mandi, mencuci, dan buang air.
“Keterbatasan air bisa membuat masyarakat mengabaikan masalah
kesehatan,” ujarnya.
Terbatasnya air bersih juga akan mengganggu kebersihan lingkungan.
Sebagian masyarakat menunda mandi atau mandi sekadarnya, serta keadaan
sekitar relatif lebih kotor dan menimbulkan banyak lalat.
Maka makanan dan minuman akan mudah dihinggapi lalat. Karena
itu, menurut dokter Ari, masyarakat dan pemerintah harus mengantisipasi
penyakit yang muncul. “Penyakit kulit dan diare sangat potensial
meningkat karena keterbatasan air bersih,” kata dia.
Dokter Ari menyebutkan, hasil berbagai penelitian menunjukkan
terbatasnya air bersih merupakan salah satu faktor utama penyebab
meningkatnya kejadian diare. Karena itu, kasus diare ini harus
diantisipasi oleh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di lokasi yang
mengalami krisis air bersih. Ari menyarankan, jika masyarakat mengalami diare, hendaknya
mengkonsumsi lebih banyak cairan dan elektrolit. Gunanya untuk mencegah
kondisi kekurangan cairan dan elektrolit yang lebih parah serta berujung
pada komplikasi lanjut. “Seperti gangguan fungsi ginjal yang
menyebabkan kematian,” ucapnya.
Selain diare, penyakit kulit karena jamur berpotensi muncul. Di
negara tropis seperti Indonesia, menurut dokter, infeksi jamur cukup
tinggi. Apalagi dalam kondisi air bersih terbatas. Kulit mudah
berkeringat, lembap, terutama di daerah lipatan kulit. Untuk menghindari
infeksi jamur, Ari menyarankan tetap mandi dan membersihkan daerah
lipatan kulit dan menggunakan pakaian yang bersih.*
Untuk mendapatkan air
bersih dan sehat untuk rumah anda gunakan Penjernih Air Serbaguna Zernii
Water Filter, hubungi kami
TLP/SMS/WA : 081317331084 dan 081369036489
PIN BB : 2199066A dan 56CC9905
*Sumber: www.tempo.co
Tidak ada komentar:
Posting Komentar